Minggu, 17 Juni 2012

tugas ajudan

pada waktu aku menulis cerita cabul, sialan dan ta'i ini aku berada di San Francisco, Californa, Amerika Serikat [USA] - ibu kota homosexualisme di Belahan Barat Dunia [Western Hemisphere].Tapi aku tak akan menceritakan tentang pengalamanku selama di San Francisco, sebab aku harus tetap konsisten dengan judul dari kisah nyata ini, yaitu:"".Aku berada di kota Cisco [San Francisco] untuk mengawal dan melayani bos.

Bos-ku mendapat tugas ke San Francisco dan aku beruntung diajak ikut - kami berdua saja. Beliau dibiayai negara.Aku dibiayai beliau.Tetapi entah dari mana beliau dapat uang buat membiayai tiket penerbanganku ke San Francisco. Biasanya kalau bos-ku pergi ke luar negeri aku hanya mengantar sampai bandara - airport dan kemudian menjemput beliau pada saat beliau pulang.Tapi,kali ini aku diperintahkan ikut dan selama di San Francisco beliau memerintahkan aku tinggal sekamar dengan beliau. Kebetulan di kamar hotel hanya ada satu bed besar sehingga aku harus tidur bareng dengan bos-ku satu tempat tidur.Beliau melarang aku untuk minta extra bed.Malahan beliau memerintah-kan agar aku tidur bareng saja dengan beliau.Aku sudah sering tidur sekamar dengan bos-ku itu. Tapi tidur satu tempat tidur? Itu untuk pertama kalinya.Ada rasa risih dalam diriku bercampur dengan rasa bangga dan bahagia.

Apakah selama di San Francisco [yang hanya dua hari itu] aku juga melakukan hubungan sejenis dengan bos atau tidak, biarlah itu jadi rahasia kami berdua!

Apakah aku disuruh mengisap kontol beliau yang size-nya tak kalah dengan size kontol kuda, atau tidak? Kiranya tak perlu aku bahas disini.

Seandainya aku disuruh mengisap kontol beliau, apakah pejuh beliau yang keluar aku telan atau tidak, itu pun juga jadi rahasia diriku sendiri.

Demikian pula apakah boolku dirojok [disodok] dengan kontol beliau[AGH! SAKIIT!],juga tak akan aku ceritakan disini! Atau - apakah di Cisco aku harus menjilati lobang pantat beliau [rimming], juga tak akan aku singgung dalam cerita biadab tak bermoral ini. Anjing!

Yang pasti aku melayani bos-ku seperti biasa, juga me-massage tubuhnya yang atletis, jantan dan berotot itu. Prosedur massage untuk beliau adalah [tergantung bagian tuuh mana yang harus aku massage], beliau telungkup [atau telentang] bertelanjang bulat tidak berpenutup selembar benang pun jua! Indah dan nikmat sekali,bukan?

Hotel kami terletak di suatu Red Light District di Cisco. Dimana gay bars, bioskop porno, toko buku porno bertebaran, juga pelacur cowok yang memberikan pelayanan sex sejenis menjajakan diri-nya di tempat ini.Daerah ini letaknya tidak jauh dari China Town yang merupakan satu dari tiga Pecinan[China Town] terbesar di Amerika Serikat, yaitu China Town : New York, San Francisco, dan Boston.

Hawa di San Francisco dingin sepanjang tahun. Kata orang,hal ini terjadi karena kota ini letak-nya di teluk dimana angin dingin yang bertiup dari Kutub Utara terperangkap di dalam teluk itu, sehingga hawa dingin menetap. Tujuan wisata yang terkenal di Cisco antara lain : Golden Gate Bridge, Penjara Alcatraz, Fisherman Wharf[?],dan juga trem kota Cisco yang antik!

PENGALAMAN JADI AJUDAN

Aku adalah seorang Perwira dari suatu angkatan bersenjata di suatu negara yang tidak perlu aku sebutkan namanya. Aku anggap tak perlu menyebut nama negaraku karena para Pembaca MOTNES [Men On The Net's Erotic Stories] tidak berkepentingan dengan negara asalku.Seperti halnya aku sendiri, tentu para Pembaca MOTNES hanya berkepentingan pada isi ceritaku ini khususnya yang berkaitan dengan cowok ganteng yang atletis berotot dengan kontol besar - yang kalau bisa ukurannya tidak lebih kecil dari ukuran [size] kontol kuda Arab atau kuda Australia yang kontolnya terkenal gede bangeth itu! Ta'i!

Bos yang aku layani adalah seorang Commander in Chief [C in C] yang berpangkat Perwira Tinggi [PATI] dan mungkin kalau di Indonesia setingkat dengan seorang Panglima. Untuk memudahkan aku menulis cerita ini aku akan menyebut bos-ku dalam cerita ini dengan panggilan: "Panglima".

Saat aku menulis cerita cabul tak bermoral ini aku bertugas sebagai Ajudan yang juga disebut ADC[Aide De Camps] dalam Bahasa Perancis-nya, dan dalam pewayangan dikonotasikan dengan tokoh Dayun, sedangkan dalam bahasa sehari-harinya barangkali disebut : kacung!

Ada yang mengatakan bahwa jabatan Ajudan adalah jembatan menuju jabatan yang lebih strategis di dunia militer. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa jabatan Ajudan adalah tempat pembuangan, tempat hukuman atau tempat memberi "pelajaran" kepada Perwira-Perwira yang sombong dan arogan!

Apa alasannya aku dijadikan Ajudan - aku tidak tahu! Tugasku sebelum jadi Ajudan adalah Perwira Pertama di suatu pasukan Khusus [Pasukan Elit]. Padahal, aku merasa bahwa prestasiku sangat baik selama di aku bertugas di Pasukan Khusus. Aku sering memenangkan pertandingan olahraga, sering dapat penghargaan jika aku ikut latihan militer dan hubunganku dengan atasan, bawahan, maupun secara horizontal baik dan OK-OK saja!

Namaku Erik Estrada[Erik ditulis dengan huruf k, tidak dengan huruf c]. Kata orang, aku berwajah tampan,berkulit putih, bertubuh atletis. Anehnya salah seorang temanku Jeffri yang sesama Perwira [...dan yang agaknya ada kecenderungan doyan sex sejenis...] pernah meledek aku :

"Erik,lu memang pantes jadi Ajudan.'Kan biasanya Ajudan orangnya putih, ganteng dan tegap"

Jadi, seperti sudah diramalkan bahwa aku suatu saat akan jadi Ajudan.Aku sendiri tidak tahu apa kah perkataan Jeffri temanku itu suatu compliment[pujian] atau suatu offense [hinaan].Tapi inilah kenyataannya! Aku sekarang sudah jadi Ajudan - yang kalau di Indonesia di bahu pakaian seragam-nya digantungkan nestel dengan tali hijau atau warna lain sesuai angkatannya!

Sewaktu aku menerima order yang di Indonesia disebut SPRIN [Surat Perintah] jadi Ajudan, aku benar-benar shock dan mental break-down.Karena saat itu aku sedang senang-senangnya bertugas di Pasukan Khusus yang terkenal sangat prestigious.

Tapi rasa kecewaku segera terobati setelah aku berjumpa Panglima. Seakan semua rasa kecewa itu hilang sirna seakan mencair berubah menjadi rasa bangga, bahagia, penuh berahi dan cinta yang menggebu-gebu!.

Betapa tidak? Panglima-ku adalah seorang lelaki yang tampan,dengan nuansa yang baby face,imut-imut berdada bidang,tinggi besar,atletis. Terasa jantan, sexy, dan amat menggemaskan!

Nyata sekali bahwa tubuh beliau atletis, ketat dan berotot.Lengannya juga amat menggiurkan dan bisepsnya aduhai amat menawan.Beliau amat kelaki-lakian dan militeristik.Aku berangan-angan bahwa dengan tubuh beliau yang tinggi besar itu PASTI lah kontol beliau juga besar. Tentu proporsional [sebanding] dengan ukuran tubuh beliau! Pejuh beliau tentu banyak volumenya dengan kualitas yang baik [kental].Ta'i!Beberapa bulan kemudian, setelah aku mengenal dan melihat beliau ternyata perkiraan dan harapanku tentang tubuh dan kontol beliau terbukti dan terwujud!

Pertama kali aku menghadap Panglima,kontan saja, jantungku berdebar keras,aliran darahku berdesir-desir dan mungkin juga[..tapi aku lupa]kontolku juga ngaceng berat saat itu! Mau rasanya aku merebahkan diriku ke atas karpet ruangan kerja beliau saat itu untuk menyerahkan seluruh jiwa ragaku kepada beliau untuk diapakan saja oleh beliau : dihajar,disiksa,diperkosa atau dibunuh!Aku rela dan ridho! Aku merasa saat itu, bahwa memang akulah yang pantas jadi Ajudan beliau dan memang akulah yang berhak jadi Ajudan beliau dan bahwa pimpinan benar sekali dan amat tepat telah menugaskan aku jadi Ajudan seorang Panglima yang wajah dan tubuhnya segagah dan seindah beliau! Barangkali, aku bukan hanya pantas jadi ajudan beliau,tetapi aku juga seharusnya merangkap jadi budak sex [sex slave] beliau, tempat pemuasan nafsu sejenis dan sasaran buat pelampiasan nafsu sadis beliau. Ta'i!

Jauh di dalam lubuk hatiku aku bersumpah bahwa aku akan melayani,menjaga, dan melindungi beliau dengan seluruh jiwa ragaku dan dengan apa pun yang aku punyai.Saat itu seakan roh-ku, nyawa-ku sudah moksa ke Nirwana mencapai cita-cita rohani dari seorang insan yang doyan sejenis! Ta'i!

Ketika aku menulis kisah nyata dan cabul ini aku sudah satu tahun bertugas sebagai Ajudan beliau Sang Panglima. Sudah cukup banyak pelajaran dan pengalaman yang telah aku dapatkan. Begitu juga kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan.

Seperti halnya Ajudan Panglima dan Ajuda Perwira Tinggi lainnya yang tinggal di rumah dinas bos-nya, maka aku pun, karena aku lajang - bujangan [belum atau tidak menikah], maka supaya praktis, Panglima memerintahkan aku agar tinggal di rumah dinas beliau saja :

"Erik.Kau tinggal disini saja. Supaya mudah buat kau kalau ada tugas mendadak"

Panglima beristeri dan mempunyai seorang putera yang baru masuk perguruan tinggi.Tetapi karena kesibukanku melayani Panglima, maka aku jarang berjumpa dengan Ibu [isteri] Panglima atau pun puteranya. Apalagi Ibu Panglima juga bekerja dan puteranya kuliah diluar kota.Hanya sekali-sekali saja aku ikut makan malam bareng dengan keluarga Panglima. Kalau ada acara keluarga, terkadang aku juga diajak ikut.

Karena kesibukan Ibu Panglima, maka praktis aku lah yang melayani Panglima luar-dalam. Selain jadi Ajudan, aku juga bertugas jadi Sekretaris Pribadi dan juga valet[petugas pengatur pakaian].

Setiap pagi aku bangun pukul 04:30 untuk bersiap-siap. Tepat pukul 05:00 aku harus membangunkan Panglima untuk sembahyang. Beliau tidur di kamar terpisah dengan Ibu Panglima,karena itu aku jadi boleh leluasa masuk keluar kamar Panglima. Jika beliau tidur, Panglima hanya mengenakan kancut yang sangat minim [thong] dan maximum exposure. Sehingga beliau tampak sexy sekali!Apalagi tubuh beliau atletis dan ketat berotot ,tinggi besar tapi ramping [lean] dengan dada bidang dan wajah tampan. Indah sekali!

Karena ketatnya kancut beliau maka tidak jarang pada pagi hari aku mendapatkan kontol beliau tegang [ngaceng] sehingga kepala kontol beliau yang bagaikan tudung jamur itu tampak jelas ter-bayang di kain kancut beliau yang berwarna hitam, merah tua atau biru tua itu!.

Sekali-sekali tampak ada setitik bagian basah di kancut beliau. Mungkin kontol beliau amat tegang sehingga mazie beliau terpancar!Aku juga pernah mendapatkan kancut beliau basah dan berceceran pejuh - karena malamnya beliau mimpi basah.Tapi beliau adalah lelaki sejati yang amat percaya diri dan dengan enteng beliau mengatakan :

"Tadi malam, aku mimpi basah, tolong ini dicuci"

Tanpa ragu beliau melepaskan kancutnya sehingga beliau telanjang bulat dan menyerahkan kancut itu padaku untuk aku cuci sebentar. Beliau tidak mau kancut beliau yang penuh ceceran pejuh itu dicuci oleh Pembantu Perempuan!Sementara itu aku pun segera mengambil handuk kecil basah untuk membersihkan bagian kontol dan jembut beliau dari ceceran pejuh. Tetapi aku punya pikiran ide cemerlang dan pikiran "nakal". Kancut Panglima yang penuh ceceran pejuh dan ditaburi beberapa lembar rontokan jembut beliau itu - tidak aku cuci, tapi aku simpan buat kenang-kenangan indah untuk diri pribadiku. Sebagai gantinya aku cari kancut dengan warna, merek, dan ukuran yang sama dengan kancut yang aku "curi" itu di suatu Mal [mall]yang terkenal di ibukota negara dan kancut baru itu aku kembalikan sebagai pengganti.

Meskipun aku pernah mendapati kancut beliau basah oleh ceceran pejuh mimpi basah Tapi jarang aku dapati pagi hari beliau baru mimpi basah. Mungkin karena pejuh beliau sudah secara berkala muncrat keluar : CROOOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOOOT! CROOOOOOOOT! - yaitu waktu beliau ngentot dengan isteri beliau atau dengan partner sex lainnya, atau bisa juga beliau masih suka onani, coli atau masturbasi - ngocok kontol!

Aku sudah sangat terbiasa melihat Panglima dalam keadaan telanjang bulat, karena aku sering dapat tugas untuk massage beliau dan juga memandikan beliau. Setiap kali beliau mandi aku juga harus melayani beliau dan aku tentu harus bertelanjang bulat juga [di dunia militer disebut menyesuai-kan].

Karena Panglima berwajah tampan dan bertubuh atletis maka meski beliau telanjang bulat tetap saja penampilannya enak dilihat! Indah! Jantan dan kelaki-lakian!

Meskipun aku baru setahun bertugas jadi Ajudan Panglima tetapi aku sudah punya koleksi : kancut beliau yang bercampur ceceran pejuh, rontokan jembut beliau, dan juga bulu ketek beliau.

Aku bisa mendapatkan bulu ketek Panglima karena aku secara periodik mendapat tugas mencabuti bulu ketek beliau.Supaya zku bisa mencabuti bulu ketek beliau, biasanya beliau akan berbaring terlentang dan mengangkat kedua lengan ke atas sehingga kedua belah ketiak beliau exposed. Lalu dengan sebuah pinset aku cabuti semua bulu ketek beliau - satu demi satu. Tentu saja semua bulu ketek yang sudah aku cabuti itu aku simpan di sebuah botol untuk jadi kenangan indah buatku!

Setelah semua bulu ketek itu bersih, aku olesi ketiak beliau dengan Ponds Cream, supaya ketiak beliau putih bersih seperti ketiak binaragawan profesional.

Seminggu sekali aku juga wajib merapikan jembut beliau [trimming]. Jembut Panglima aku rapikan sedemikian rupa,sehingga jembut beliau rapi tapi tetap terkesan lebat, tebal, hitam dan tumbuh luas. Sehingga amat harmonis dan serasi dengan kontol beliau yang besar, disunat ketat serta dilengkapi dua biji peler membulat bergantung di bawah kontol. Sehingga, kalau beliau sedang ber-telanjang bulat beliau terkesan : jantan, sexy, kelakian-lakian dan militeristik! Nikmat sekali melaksanakan tugas menyabuni tubuh beliau waktu mandi.Tubuh beliau keras,ketat,tapi kenyal.Semua itu berkat latihan beban yang amat intens.Aku harus menyabuni seluruh tubuh beliau, termasuk bagian puting susu, kedua belah ketiak beliau, bagian jembut, kontol, biji peler dan lipatan pantat [bool] beliau.Yang membahagiakan aku adalah sewaktu aku menyabuni kontol dan biji peler beliau yang besar dan indah dan juga tentu-nya sewaktu aku menggosokkan sabun dengan tangan-ku ke jembut beliau yang hitam lebat dan tebal dan amat kelaki-lakian itu. Jiwaku serasa moksa ke nirwana!Ta'i! Karena itu aku tak putus-putus-nya bersyukur - berterima-kasih karena aku telah diciptakan jadi cowok homosex, karena aku bisa jadi tentara dan karena aku ditugaskan jadi Ajudan beliau : Panglima yang teramat indah!

OLAH RAGA PAGI

Olah raga pagi adalah acara yang amat penting bagi Panglima, karena Panglima harus selalu fit dan punya physical fitness yang bagus dan vita-litas yang tinggi. Lari [jogging] lima kilometer tidak bisa ditawar, diikuti dengan latihan beban lima belas menit yang amat intens. Seperti semua lelaki yang gila olah raga, Panglima juga punya target harian push up, sit up, pull up,1000 kali sehari : pagi 250X, siang 250X, sore 250X, dan malam 250X. Untunglah aku sama-sama gila olah raga dan sudah biasa latihan fisik berat sewaktu aku bertugas di Pasukan Khusus - sehingga aku mampu mengimbangi kegiatan Panglima! Aku yakin banyak Perwira yang tidak akan mampu mengimbangi kekuatan fisik Panglima itu.Mungkin itu pula lah salah satu alasan,mengapa aku yang terpilih jadi Ajudan beliau!

Panglima juga amat rapi dan dandy. Aku diharus-kan menggunakan pakaian, sepatu, pakaian dalam, deodoran, parfum, after shave yang mereknya sama dengan merek yang beliau pakai. Tentu saja untuk pakaian dan pakaian dalam dengan warna yang ber-beda.

Pagi hari, kami olah raga bercelana pendek dan singlet. Celana pendek pasti warna putih, tapi singlet yang dipakai Panglima harus beda warna-nya dengan yang aku pakai. Biasanya setelah selesai "pendinginan", aku mengeringkan keringat Panglima dengan handuk kering, kemudian dengan handuk basah. Keringat dan ketiak Panglima tidak berbau - yang selalu tercium oelhku adalah bau harum deodoran atau parfum beliau.

SEX DAN SADISME

Sayang sekali - karena aku cinta dan setia pada Panglima, aku tidak bisa menceritakan apakah aku kadang-kadang harus melayani pemuasan nafsu sex sejenis beliau atau tidak.B iarlah, seandainya ada cerita tentang sex antara Panglima dan aku, itu semua jadi rahasia yang indah yang hanya boleh diketahui Panglima dan aku. Ta'i!

Tapi sebagai tentara, aku tentu boleh cerita bahwa sekali-sekali aku jadi pelampiasan nafsu sadis Panglima - dan aku bangga dan rela untuk itu! Biasanya dilakukan beliau waktu latihan karate [full contact] atau latihan tinju. Aku anggap itu sah-sah saja!

Kelebihan atasan di militer adalah bahwa atasan boleh menghajar dan menyiksa bawahannya dengan alasan apa pun, baik bawahan salah atau tidak salah! Asal tidak sampai cacat dan tidak sampai mati saja!

Apalagi seorang Panglima yang tampan, jantan atletis dan ketat berotot dengan kontol besar seperti Sang Panglima-ku itu. AMAT BOLEH SEKALI!

Waktu latihan tinju Panglima biasanya berusaha untuk mengarahkan pukulan tinju kearah perutku, berkali-kali [tetapi tidak ke arah kepala atau wajahku!]. Karena, beliau sebetulnya sayang kepadaku.Kalau aku lalai maka perutku bisa habis dilibas beliau.

Beliau juga sering mengajak aku taruhan dengan bayaran : lecutan cemeti 100X. Yang jadi taruhan biasanya:kami berdua main catur atau panco.Tentu saja aku mengalah saja,supaya beliau bisa dengan leluasa melecuti tubuhku sepuas-puas beliau!

Nyata sekali beliau melampiaskan nafsu sadis beliau,karena lecutannya keras dan dengan sekuat-kuat otot-otot karate beliau. Tidak heran jika barusan dicambuk Panglima, punggung dan bagian-bagian tubuhku yang lain jadi penuh lebam, lecet dan mengeluarkan darah segar! Luka lecet akibat lecutan Panglima terasa perih, apalagi waktu aku mandi, terkena air dan sabun. Tapi bagiku terasa nikmat dan jantan sekali - serasa nyawaku moksa ke Nirwana! Ta'i!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar